Abiyoso Pradipta M.

Thole (panggilan untuk anaku yang kedua), Bapak mau bilang sama Thole “mungkin saja bapakmu bukan ayah yang tangguh yang ada di muka bumi ๐ŸŒŽ ini” Bapakmu belum bisa mengerti apa yang sering kau harapkan. Bapakmu kadang tak mampu memenuhi tiap keinginanmu. Bapakmu penuh dengan keterbatasan hingga tak sanggup mengimbangimu.

Di usiamu yang genap empat tahun pada Mei ini, kau nampak dikuasai atas keinginanmu. Dunia mainan dan tontonan menjadi nomor satu. Aku bangga dan bersyukur karena kau istimewa dari Sang Pencipta. Bukan Kuasa bapak dan ibumu kau dikuasai keinginanmu.

Bisa jadi karena pertimbangan tertentu, setiap keinginanmu pasti dipending dan ditunda. Aku pun luluh hanya karena rengekan kencang keluar dari mulutmu. Kuatnya teriakan atas keinginanmu, selalu menundukanku. Sempat beberapa kali, hilang kendali untuk melayanimu dengan menunjukkan amarahku padamu. Namun saat itu juga, diri ini nyesel dan takut untuk mengulangi lagi.

Bapak yakin, jika waktu telah tiba, tanpa dikalahkan pun Thole mampu mengontrol keinginan itu. Meski terkadang keyakinan itu oleng hingga kuharus bermain fisik untuk menunjukkan dominasi amarahku. Maafin bapak ya le…….

Melalui tulisan ini bapakmu akan berusaha mengingat bahwa tidak seharus nya ku melawan dirimu. Karena bagi Bapak dirimu adalah takdir Allah yang kumaknai sebagai guru dan patner dalam kehidupan.

Jika suatu saat, kamu merasa tersakiti oleh pelayanan bapakmu ini, tolong lupakan y le….., aku khawatir kalo rasa sakitmu kau simpan sampai kau besar nanti. Jika BAPAK nanti harus menjalankan doktrin agama untuk menghardik dan memarahimu, tolong buka permaklumanmu.

Di akhir kanak menuju balighmu, mungkin empat tahun mendatang sampai kau menuju dewasa, kau bukan lagi raja seperti saat ini. Tolong pahami itu y Thole…

Masih ada beberapa tahun kedepan Thole berperan sebagai Raja ๐Ÿ‘‘๐Ÿ€๐Ÿ‘‘. Engkau raja dan aku pelayananmu. Meski Bapakmu akan berusaha membuka kedaulatan berfikir mu, bukan memperbudakmu jika kau baligh nanti.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat hubungan emosional kita y Le…..suatu hubungan yang mesra untuk saling mengawal dan menemani dalam menjalani kehidupan dunia yang semetara untuk kehidupan yang kekal nanti

Penerimaan Negara sektor Migas

Harga minyak mentah Indonesia atau biasa disebut dengan ICP pada setiap bulannya dilaporkan dari Dirjen Migas kepada Menteri ESDM. Sebagai kelengkapan laporan kepada menteri dilampirkan executive summary harga minyak di pasaran.

Paragraf di atas merupakan salah satu deskripsi dari rekaman kegiatan pelaksanaan tugas dan fungsi Ditjen Migas yang dilaksanakan oleh Sub Direktorat Penerimaan Negara dengan kode unit kerja DMBP.

Unit kerja DMBP mempunyai kegiatan yang bersifat koordinatif berskala nasional terkait penerima sumber daya alam yakni Migas. Informasi yang selama ini terbaca oleh penulis melalui kegiatan pengarsipan yakni Lifting Migas, Rapat kerja perhitungan bagian pemerintah pusat dan daerah, sistem informasi monitoring lifting, sosialisasi pendapatan negara bidang Migas, tim harga minyak, inventarisasi data migas (angka2 dalam satuan barel untuk pengangkutan minyak mentah dari lokasi pengeboran migas) dan seterusnya.

Sifat kerja yang koordinatif menyebabkan arsip atau rekaman kegiatan belum terberkaskan secara konsisten. Selain itu begitu banyak pihak atau institusi dari luar KESDM yang terhubung dengan unit kerja DMBP menyebabkan para pelaksana atau staf memiliki mobilitas yang tinggi sehingga kemungkinan banyak waktu tersita untuk aktivitas pekerjaan di luar kantor atau dinas luar daerah.

Pihak lain atau institusi yang berkoordinasi dengan Subdit Penerimaan Negara pada Direktorat Pembinaan Program Migas adalah Bank Indonesia, DJA, DPB, Direktorat Penerima Negara Bidang Migas Kemenkeu, Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia yang memiliki sumber daya alam Migas, Badan Usaha Pertambangan Migas, SKK Migas, Biro Perencanaan KESDM, Ditjen Perimbangan Keuangan Daerah Kemenkeu, Kementerian Dalam Negeri dan seterusnya.

Seri dan jenis arsip pada Subdit DMBP sebagaimana termuat dalam Jadwal Retensi Arsip Substantif Minyak Dan Gas Bumi (Peraturan menteri ESDM no.18 tahun 2011) antara lain adalah penetapan harga minyak mentah, Monitoring Lifting, Prognosa Daerah Penghasil, Data Ekspor Gas, Data Estimasi dan distribusi pemerintah, Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (PKPD), berita acara bagi hasil Migas, penetapan daerah penghasil Migas

Baca juga http://nurulmuhamad.blogspot.com/2013/11/jenis-dan-seri-arsip-pembinaan-program.html?m=1

Kinerja dari unit kerja penerima negara Migas pada Ditjen Migas adalah proses penetapan daerah penghasil yang dalam bentuk keputusan Menteri ESDM akan melandasi Keputusan Menteri Keuangan terkait pembagian bagian negara bukan pajak sektor sumber daya Migas.

Berikut rencana wawancara penulis dengan pimpinan unit kerja DMBP Heru Widianto (menunggu konfirmasi)

Selamat siang Pak, kami tim arsip sedang dalam proses pengarsipan sejak sebulan lalu. Hampir 40 kardus besar telah kami proses pemilahan. Bisa kami mendapat kan melakukan wawancara? Berikut delapan pertanyaan yang semoga dapat memberikan pengetahuan untuk kami dalam menjaga rekaman kegiatan dari masa ke masa.

โญ Bisa digambarkan pelaksanaan kegiatan utama subdit DMBP?
Jawaban:
โญApakah tantangan yang paling serius atau kesulitan menurut bapak?
Jawaban:
โญBagaimana mengatasi tantangan tersebut?
Jawaban:
โญ Apakah sifat pekerjaan yang koordinasi mengakibatkan mobilisasi tinggi untuk para staf?
Jawaban:
โญBisa digambarkan monitoring lifting yang dilakukan DMBP dan untuk keperluan apa saja?
Jawaban:
โญApa perbedaan yang mencolok dari proses rapat kerja atau workshop penerima negara bidang Migas saat ini dibanding dengan lima atau sepuluh tahun yang lalu.
Jawaban;
โญBagaimana pembagian pendapatan negara sampai ke daerah penghasil?
Jawaban:
โญBagaimana dan kapan dibutuhkan ketersediaan arsip atau rekaman kegiatan?
Jawaban:

HALAL BIL HALAL

Senin, 10 Juni 2019 tenggelam dalam pemilahan arsip di paro hari. Bertepatan dengan hari pertama kerja setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri, suasana kerja masih dipenuhi dengan cerita kemacetan mudik.

Di Gedung Migas, lantai 6 diadakan halal bil halal sejak jam 7.30 WIB. Direktur Jenderal MIGAS yang diagendakan untuk menghadap Menteri ESDM mengajukan jam pelaksanaan menjadi satu jam lebih awal.

Meski penulis menghadiri acara terlambat 40 menit, namun masih dapat menemui di saat acara ramah tamah dengan makan bersama. Menu makan yang disediakan adalah Bakso, Soto, Sate, dan Siomay berikut kudapan kue basah dan minuman jus buah.Makanan khas dan sudah menjadi ciri keindonesiaan meski berada di Ibu Kota Jakarta.

Tradisi salam salaman pada hari pertama kerja setelah lebaran di Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi telah di alami penulis selama sepuluh kali yakni sejak tahun 2009. Sejak kepemimpinan Evita Herawati Legowo kemudian Edy Hermantoro, IGN Wiratmaja, dan saat ini Djoko Siswanto.

Ada satu nama Dirjen Migas yakni Ego Syahrial yang tidak sempat mengalami tradisi halal bil halal karena Mutasi ke Sekretaris Jenderal KESDM. Masa Jabatan sebagai Dirjen yang tidak bertepatan dengan hari raya idul Fitri dan belum sampai satu tahun merupakan masa jabatan paling cepat diantara Dirjen lainnya.

Pelaksanaan acara terbilang sangat simpel dan sederhana namun tidak mengurangi kehidmatan dalam bersalaman. Meski penulis kehilangan momen saat bersalaman secara berjamaah.

Penulis berhitung jika jam 8.00 WIB masih mendapati momen bersalaman. Namun ternyata acara berada di luar kebiasaan. Selesai acara sambutan Dirjen dilanjut makan bersama. Nyesel rasanya kelewatan hangatnya momen bersalaman.

Akhirnya, selamat ๐ŸŽŠ๐ŸŽ‰ hari raya lebaran 2019, semoga kembali ke dalam kesucian. Suci dalam pelaksanaan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara sub sektor Minyak dan Gas Bumi. Suci bukan semata mata putih saja. Namun membawa Semangat idul Fitri untuk terus memberikan pengabdian demi manfaat untuk institusi Ditjen Migas dan rakyat indonesia.

MUDIK SLEMAN

Di malam menjelang balik Depok, Ibu dan Bapak Mertua sudah sibuk untuk menyiapkan bekal dan buah tangan. Bekal di jalan sepeti roti kering cemilan sampai dengan menu makan ๐Ÿด๐Ÿด๐Ÿฑ yang dimasak dipersiapkan dengan penuh rasa sayang.

BERAS dan salak dari hasil menanam di lahan sendiri sampai dengan jajanan yang dibeli dari warung dipersiapkan untuk cucu tercinta. Setelah membersihkan raga dengan segarnya air ๐Ÿ’งsumur Jabung, dan lanjut dengan sarapan, jam 09.00 pamitan dari rumah mertua.

8 Juni 2019 jam 10.30 berpamitan dari rumah kakek Wahono untuk melakukan perjalanan kurang lebih 21 jam. Bagi keluarga ๐Ÿ‘จ๐Ÿ‘ง๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ‘ด๐Ÿ‘ต yang teridiri Nurul, Elin, Nasywa, Dipta, dan rara menjadi perjalanan ketiga di tahun 2019. Perjalanan dari tanah perantauan ke tanah kelahiran.

Kami sebut tanah perantauan karena di Ibukota kita menghabis kan waktu untuk menjalani mata pencaharian, dan tanah kelahiran karena pernah dibesarkan sampai mengajak lulus kuliah.

Laju kendaraan terhenti ketika pesanan temen istri untuk dibawakan intip. Makanan ringan yang diinisiasi dari kerak saat menanak nasi, namun sekarang telah menjadi industri makanan ringan.

Di pusat oleh oleh massugi di Magelang singgah untuk menjalankan empat rakaat sembari menunggu istri belanja makanan titipan.

Dalam perjalanan, istri meminta makan Soto, baru terpenuhi ketika masuk res Area 359, soto kudus tanpa nasi yang dihargai 25.000. Kemudian perjalanan terhenti ketika sudah menempuh 250 kilo meter, tepatnya di rest area 102.

Diselingi tangisan istri karena menahan sakit perut, berhenti juga di rest area 88 dan 52 sebelum menempuh 21 jam perjalanan balek.

Sekitar 6.30 WIB masuk di Perumahan Villa Tanah Baru. Kaki terasa pegel dan mata mulai ngantuk setelah membersihkan dan memarkirkan mobil di garasi.

Cerita ๐Ÿ“– perjalanan mudik yang menjadi rutinitas saja. Tahun 2019 ini telah tiga kali bolak balik ke sleman yogyakarta. Ada di bulan Februari, April dan Mei.

Kuliner dan rekreasi malam

Sejak tanggal 2 Mei s.d 8 Mei 2019, posisiku dan keluarga berada di Provinsi Yogyakarta. Selain berlebaran dan mudik, tentunya menyempatkan diri untuk kuliner dan rekreasi. Kuliner mie jogja ala Pak Hardi. Cerita yang nongol di kupingku, Hardi adalah mantan pegawai warung mie jogja mbah Ndumok yang legend.

Di daerah Sleman ada warung yang dijalankan secara turun temurun yakni Bakmie Mbak Ndumok.

Meski telah membuka warung sendiri, Pak Hardi mempertahankan metode memasak dengan mempergunakan arang dimana di warung mie jogja Mbah Ndumok (yang dijalankan anaknya) telah mempergunakan gas sebagai bahan bakar memasak.

Lokasi warung Pak Hardi yang tidak jauh dengan pendahulunya menciptakan keramaian sudut kuliner tersendiri di Sleman. Selain itu kehadiran mie jogja berlabel Slemania sebagai pendatang baru memeriahkan kawasan Wadas untuk para penikmat mie jogja.

Ketika agenda silaturahmi atawa sm disebut ujong dalam istilah di kampungku Sucen Triharjo Sleman, menyempatkan untuk rekreasi malam ๐ŸŒ›๐ŸŒŸ di Taman Pelangi. Kawasan Monumen Jogja Kembali yang telah dipoles menjadi taman lampion menjadi alternatif menghabiskan waktu petang sampai malam bersama keluarga.

Meski kunjungan keempat, namun menjadi berbeda ketika dipta dan nasya serta nayla (anak2 penulis) sudah dapat berjalan dan bermain. Jika pada kunjungan sebelumnya hanya bisa melihat trampolin ramai dimainkan anak anak, kali ini mencoba masuk dengan tiket 15.000. Wahana bermain yang bisa dibilang berumur, menjadi pertimbangan penjaga ketika penulis merasakan loncat loncat meski masuk untuk menjaga anak anak saja.

Pada tempat rekreasi kedua adalah Kaliurang. Kawasan wisata lereng gunung merapi ini merupakan tempat yang legend bagi warga di sekitar Sleman. Udara yang sejuk menjadikan kesan pengunjung tidak bosan bosannya meski puluhan kali datang.

Di kawasan tlogo putri mengantar kakung bermain perahu angsa bersama nasywa dan dipta. Akhirnya berfoto di depan patung harimau

REKAMAN VIDEO

Masuk pada hari ke lima, edisi pulang kampung.
#sucen #jabung

Sungkeman dimaknai sebagai penyampaian bhakti kepada orang tua dalam ucapan yang dilaksanakan ba’da sholat sunat hari raya di rumah ๐Ÿก orang tua atau mertua. Pada Lebaran tahun ini bisa mengabadikan lewat rekaman video karena dipta dan nasywa merasa terhibur dengan melihat video saat pentas di sekolah.

Berbarengan dengan itu tahun 2019 merupakan tahun dimana anak anak ๐Ÿ‘ถ mengenal video yang diunggah di Youtube. Fenomena youtuber yang menjamur mempengaruhi peran Bapak dalam menemani tumbuh kembang sang anak. Sang bapak punya senjata baru untuk menghibur anak dengan memainkan rekaman ๐ŸŽฅ๐ŸŽฌ๐Ÿ‘€ yang diunggah di Youtube.

Banyak pilihan rekaman yang membuat permisif si Bapak semisal film pendidikan, bacaan murottal, pengenalan obyek dan warna bahasa sampai dengan pengetahuan umum lainnya.

Dalam dua minggu terakhir, Dipta dihibur rekaman vidio dalam HP ibunya saat mencari bapak. Ketika melihat video, teriakan dan tangisan untuk mencari bapak berhenti. Rekaman vidio tetangga melalui HP saat nasywa dan dipta bermain rumah Depok atau vidio pendek ketika di tangkap ibunya saat melihat ke gemesan anak anak di dalam kamar menjadi hiburan pengantar tidur.

Runtutan kejadian dan gambaran keadaan diatas menyulut si bapak untuk melakukan aktivitas perekaman. Meski tidak berniat untuk mengunggah di youtube. Memulai merekam aktivitas anak dalam bermain dan memainkan mainannya, sebagai koleksi untuk mengisi waktu di kala bersama anak. Misalnya saja rekaman video saat berkumpul dalam nuansa lebaran di rumah Sucen atau di rumah Jabung. Lebaran yang jatuh pada tanggal 4 dan 5 Mei 2019 telah berlalu meski hanya beberapa video yang dapat terekam melalui HP.

HP yang diharapkan tidak mempengaruhi tumbuh kembang anak menjadi sisi keping uang logam. Satu sisi keadaan dan satu sisi HP menjadi teknologi untuk lebih menghidupkan keadaan.

Ditemani video rekaman yang dapat di putar melalui HP, anak menjadi tidak rewel dan tidak merepotkan ibu atau bapak. Terlebih ketika sang ibu dan bapak masih ada hal yang harus dikerjakan.

Awalnya yang berfikir untuk menjauhkan HP dan Gadget untuk anak, saat ini berkeinginan untuk membelikan HP atau gadget. Hal tersebut dilandasi penuh kesadaran untuk menyediakan fasilitas agar keadaan dapat lebih hidup. Bukan untuk merusak dan bukan untuk berlebihan.

Kampung Halaman

Ke Sleman lagi edisi lebaran 2019 bagian kedua ini menjadi cerita kerinduan atas hubungan emosional semasa tinggal di kampung. Tulisan ini menjadi pengingat penulis bahwa tantangan kaum udik (golongan perantau dan akhirnya harus pindah kependudukan) tidak bisa lagi ikut membangun kampungnya.

Bukan tidak mau namun perubahan yang dialami menciptakan kondisi yang sulit untuk dapat berbuat banyak di kampung sebagai tanah kelahiran. Semoga tulisan ini membawa pribadi penulis untuk meniti kerinduan sampai pada suatu saat nanti punya kesempatan dan kemampuan lagi untuk ikut memberikan sumbangsih pembangunan untuk kampung halaman.

—–+++++++—–#####$$$$$&&&&@@**”‘

Kamis, 6 Juni 2019 adalah hari keempat dari rangkaian pulang kampung atau biasa disebut dengan mudik. Selain itu merupakan hari kedua lebaran dimana hari2 diinstal dengan hal yang sama tiap tahunnya.

Pagi hari menjelang hari kemenangan atawa lebaran, singgah di Puri Mertua Indah memang cukup menyenangkan. Terbangun dari tidur langsung bisa mandi disambung dengan sarapan pagi. Tidak perlu repot untuk bangun sendiri dan menyiapkan makanan sendiri. Mertua yang begitu baik membangunkan dan mempersilahkan makan.

Kita cukup berfokus melakukan servise kepada cucu cucu mertua dengan mangajak ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat Ied. Bertempat di komplek perkantoran OPD Kab. Sleman yang berlokasi di dekat kampung halaman Sucen Triharjo Sleman Yogyakarta, kami pun mengikuti rangkaian sholat Ied tahun 2019.

Nuansa sholat Ied yang penuh dengan orang2 yang dulu pernah dijumpai semasa kecil. Ada pak Ustadz yang dulu pernah mengajak dan menemani mengenal islam. Ada pakdhe2 yang melirik ke arah tempat aku duduk sambil manggut manggut. Ada mas mas yang dulu memuji kepintaranku dalam sekolah sambil terus mengagumi karena sudah punya tiga anak.

Nuansa kenangan balik kampung begitu menghiasi dari jamaah sholat Iedul Fitri di tahun ini. Di kerumunan jamaah itu, terkuak memori ketika aku yang masih semasa bermain. Melihat si A teman SD. Berjabat tangan dengan si B teman bermain dan berorganisasi remaja kampung. Dipanggil Bapak C yang dulu dan sekarang masih menduduki jabatan tokoh masyarakat. Disapa mas D sebagai rekan pergerakan kegiatan remaja Mushola dan pengurus masjid.

Tak lupa terlihat pula temen2 sebaya pada lima belas tahun yang lalu yang memandangku sebagai orang yang sukses. Sebuah pandangan yang dibelenggu penjajahan ekonomi kapitalisme. Pandangan yang menjadikan keakraban semakin retak, padahal dulu pernah sangat mesra untuk menjalani hari hari di Sucen.

Selain itu terlihat pemandangan kampung yang dulu bocah kini menjadi manusia muda. Tubuh gempal dan gagah serta kumis atau jenggot bukan bocah dulu yang pernah ku urusi ketika mereka belajar mengaji atau ketika mereka lomba 17an.

Bocah2 yang dulu merasa disayangi, diurusi dan dikondisikan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik kini telah merasa asing dengan diriku. Mereka merasa ditalak, merasa dicerai, merasa ditinggalkan ketika bertahun tahun ku telah pindah penduduk di ibu kota.

Tiada wujud bentuk kasih sayang, keberpihakan dan perhatian untuk nasib mereka di kampung, sedangkan diri ini tenggelam dalam jelmaan takdir kehidupan sebagai kaum udik.

Hal itu menjadi tautan untuk kondisi hubungan yang lain. Aku punya hubungan emosional di kampung saat punya banyak waktu dengan organisasi remaja, kepengurusan masjid, TPA, senioritas, tokoh masyarakat, kekerabatan keluarga dan seterusnya. Namun kini menjadi terasa asing saat pulang kampung. Tak sedetik pun waktu dapat disisihkan untuk hubungan2 tersebut.

Jika memang status kaum udik menjadi penyebab retaknya hubungan itu, maka diri ini menjadi manusia yang telah berubah. Namun melalui tulisan ini, ku ungkap kan bahwa perubahan yang terjadi karena ketidakberdayaan atas penjajahan ekonomi semata.

Kutuliskan alibiku bahwa perubahan ini tidak semata atas kemampuan dan keinginanku. Masih ada di dalam hati kecilku rasa emosional atas hubungan hubungan tersebut. Semoga dapat tumbuh kembali rasa itu. Rasa yang dulu merasa “aku anak kampung'”.

Kaderisasi arsiparis

Selamat Jalan Bapak Suwondo, Semoga mendapat tempat terbaik di Sisi Allah SWT dan semoga jasa di bidang kearsipan yang pernah diukir menjadi pengingat kami untuk meneruskan perjuangan pembangunan kearsipan di KESDM.

Memori kenangan bersama pak suwondo adalah mendatangi kampus UGM untuk menawarkan mahasiswa kearsipan untuk bisa PKL di Pusat Arsip KESDM. Alhasil ada beberapa kelompok yang terdiri 3 s.d. 4 orang yang tinggal di wisma pondok Ranji untuk belajar kearsipan sebagai syarat kelulusan mereka.

Pak Suwondo yang saat itu menjabat sebagai kepala Sub Bagian Kearsipan pada Biro Umum KESDM, memiliki cita cita yang luhur agar Pusat Arsip dapat diisi oleh para lulusan kearsipan dari kampus. Mereka yang telah belajar kearsipan dapat berkarya meneruskan bidang kearsipan di KESDM.

Perhatian beliau sangat sederhana untuk memajukan kearsipan dengan diawali mengkader para arsiparis sejak dari mereka belum lulus (atau status magang).

Pada suatu hari, beliau menelpon penulis untuk menengok para mahasiswa kearsipan yang sedang magang atau PKL di PUSAT ARSIP KESDM pondok Ranji. Dengan kesederhanaan beliau, mengajak naik bus kearah ciputat dan membawa satu pack permen. Setelah dua jam naik bus non AC waktu itu, dan oper angkot setengah jam, dapat memberikan wejangan kepada anak anak PKL.

Arsiparis atas nama Dunong, Tony, dan Lia adalah tiga dari Mahasiswa kearsipan UGM yang berhasil dikader secara tidak langsung oleh Bapak Suwondo. Sedangkan mahasiswa kearsipan lain yang saat itu berjumlah dua belas orang, semua dapat meniti karir sebagai arsiparis meski di kementerian lain misalnya dian di kementerian Kehutanan, agung di KPU, dan yang lain penulis lupa.

Delapan tahun yang lalu tepatnya tahun 2011, jejak pak Suwondo yang mengkader para arsiparis di Pusat Arsip KESDM. Kemudian diikuti beberapa mahasiswa pada tahun berikutnya dan mengenalkan Pusat Arsip KESDM di bursa pencari kerja.

Ke Sleman, Edisi Lebaran (bagian pertama)

Pulang kampung kali ini bersamaan dengan musim Mudik Lebaran. Meski belum genap dua bulan setelah 5 april kemaren pada tautan berikut: https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/04/08/ke-sleman-lagi/?preview=true

Setelah menutup gelaran malam ramadhan sejak tanggal 5 Mei s.d. 1 Juni 2019 terdiri dari takjil, ceramah sebelum tarawih berjamaah dan tadarus Allah Qur’an di Mushola Allah Ukhuwah Perumahan Villa Tanah Baru, maka pada 2 Juni ba’da shubuh meluncur ke Sleman.

Persiapan kendaraan jasa Service di Auto 2000 Toyota Krida Cilandak Timur pada 31 Mei 2019 melakukan ganti Oli dan kampas rem pada KM 41.046. Meski gratis jasa service (diganti jasa 50.000) namun untuk pembayaran sebesar 1.209.898.

Rekomendasi servis berikutnya pada KM.60.000 dimana servis sebelumnya di KM 34 ribu pada sembilan bulan yang lalu (Agustus 2018) dengan biaya sebesar 1.339.850 di Nasmoco Mlati.

Kurang lebih tabuh 05.30 meninggalkan rumah VTB dan menyusuri jalan ke arah yogyakarta. Bisa dibilang perjalanan ini mencatatkan rekor terbaru waktu tempuh yakni hanya 12 jam. Berikut aktivitas dan kegiatan yang dapat dilalui. Meski tidak sedetil dan senyata namun tulisan ini cukup menjadi gambaran umum.

1. Malam pertama, 2 Juni 2019 kurang lebih jam 18.00 masuk di kediaman kakung dan uti. Nasya dan Dipta terlihat asyik dan senang hinga larut malam ๐ŸŒ›๐ŸŒŸ๐ŸŒ™โฐ๐Ÿ’ค๐Ÿ’ค mereka baru menghabiskan ke terjaga annya (tertidur). Saya sih duluan tidurnya karena semalam begadang dan badan sudah tidak seimbang ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜›๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

2. Hari Pertama, 3 Juni 2019 dengan awal sahur & mendengar kumandang kalimat IMSYAK dari tiap pengeras masjid. Di masjid gawar, ditambahin kalimat ” bapak ibu su monggo ka aturan tidak dateng mesjid, sholat subuh berjamaah.

Kegiatan siangnya mencoba kembali menciptakan nuansa rekreasi menemukan antara cucu dan kakeknya. Berlokasi Grand Puri Water Park, Jl. Parangtritis KM. 9,5, Gabusan, Sewon, Balong, Timbulharjo, Kec. Bantul, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55186 meninggalkan Nayla, Nasywa, Dipta dan kakek Wahono dengan tiket masuk plus parkir 130 ribu.

Tulisan Museum of Java di pinggir jalan menarik laju mobil sebelum mengarah ke Mbah Mbantul meski tidak jadi masuk.

Setelah beberapa saat, jam 16.00 WIB menuju ke tempat orang2 bantul biasa berkumpul untuk makan. Pusat jajanan yang hampir deket dengan pantai Parangtritis. Terlihat bangunan masih baru menandakan tempat berkumpul tersebut masih belum lama didirikan. Kegamunan diriku terhadap keadaan masyarakat Bantul dimana sejak dulu pernah terdengar tidak diperbolehkan alfamart dan indomart dapat berjualan di Bantul.

3. Hari kedua, 4 Juni 2019 merupakan hari terakhir berpuasa Ramadhan, dihabiskan dengan bercengkerama di Jabung. Badan yang sudah mulai hilang keseimbangan harus di tidur kan, jam dua siang sampai dengan datangnya waktu berbuka puasa terlelap sambil menunggu digantinya sel sel tubuh yang rusak.

Seperti biasa, melengkapi hidangan Lebaran di rumah mertua yang menjadi titik berkumpul sanak family. Air mineral 330 ml dan kemasan gelas 220 ml serta minuman bersoda 48 buah ๐ŸŽ๐ŸŠ๐ŸŒ๐Ÿ‰๐Ÿ‡๐Ÿ’๐Ÿmenjadi penanda bakti kepada orang tua.

Setelah lepas berbuka, yg rencana balik ke rumah Sucen harus ditunda sampai besok pagi. Karena anak2 yg masih belum terkondisi, terlebih si Rara yang gelendotan ibunya. Akhirnya sampai dengan jam 10 malam menunggu pawai obor lomba takbir keliling untuk memberi hiburan kepada nasywa dan dipta.

Monev e-surat

Para staf pada sekretariat pimpinan & Pengadministrasi Umum selaku petugas persuratan di lingkungan Ditjen migas mengikuti acara monitoring dan evaluasi (Monev) pelaksanaan e-surat di Wisma Energi Bogor, pada hari Rabu, 29 Mei 2019.

Kurang lebih tiga puluh (30) orang perwakilan unit kerja sejak pukul 09.30 WIB mengikuti acara termaksud untuk menyusun kesepakatan dalam pelaksanaan urusan persuratan berbasis teknologi informasi komputer (TIK)

Kesepakatan akan dikompilasi dari keaktifan pengguna & pemanfaatan fitur pada aplikasi sebagai data dukung penilaian Mandiri Reformasi Birokrasi pada indikator perubahan tatalaksana bidang e-government.

Perubahan tatalaksana tersebut ter implementasi dengan wujud pengelolaan aplikasi persuratan dinas secara elektronik atau biasa di sebut dengan e-surat.

Tema yang diusung pada monev kali ini adalah pemanfaatan fitur pengarsipan terhadap naskah dinas yang bertanda tangan pimpinan di lingkungan Ditjen Migas. Sebagai sarana tatalaksana administrasi perkantoran, aplikasi e-surat memiliki fitur antara lain registrasi, disposisi dan distribusi, dan pengarsipan file pdf.

Beberapa contoh kasus pencarian arsip surat yang terjadi di lingkungan Ditjen Migas dapat dilaksanakan dengan baik karena dukungan aplikasi e surat. Selain itu juga memberikan kemudahan dalam penyimpanan dan pendataan sebagai dukungan pelaksanaan administrasi Ditjen Migas.
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/04/25/261/?preview=true .

Kehadiran aplikasi persuratan termaksud menggeser penomoran surat dengan metode buku agenda. Data surat beserta file PDF tersimpan di dalam database dan di server yang terjaga aksesibilitasnya.

Hasil monitoring menunjukkan bahwa sebagian besar surat yang tercipta di Lingkungan Ditjen Migas belum diunggah pada aplikasi persuratan. Hasil uji petik atas pemanfaatan fitur pengarsipan dilaksanakan berdasarkan data pengguna (user pada sekretariat pimpinan Dirjen, Direktur, Kasubdit/Kabag)

Maulana telah mulai melaksanakan scan dan mengunggah untuk surat bertandatangan Dirjen sejak bulan April. Ganjar menyatakan belum memanfaatkan fitur pengarsipan untuk surat bertandatangan Direktur Infrastruktur Migas. Ganjar meminta agar penomoran (register) surat Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dapat melalui aplikasi surat.

Mala merasa telah melaksanakan untuk nota dinas bertandatangan Subdit Pengolahan Migas dan Direktur Pembinaan Usaha Hilir, namun setelah dicek baru beberapa surat yang terlaksana. Suyatno(Jebeng) aktif dalam pengarsipan terhadap nota dinas bertandatangan kepala Subdit Harga dan Subsidi dengan capai an 70% dari jumlah data.

Kasus pencarian nota dinas bertanda tangan kasubdit antara lain pada Subdit Wilayah Kerja Migas untuk data dukung penyelidikan penegak hukum, nota dinas kasubdit terkait perizinan pengangkutan Migas dimana Wati menjadi Pengadministrasi umumnya.

Sedangkan Sustini dan Firman menyampaikan bahwa sejak Januari 2018, nota dinas Kasubdit kepada Direktur terkait izin penyimpanan Migas telah terintegrasi dengan database aplikasi perizinan hilir Migas (bukan bentuk nota dinas)

Lima orang peserta mewakili seluruh Subdit pada Direktorat Pembinaan Program Migas yakni Pipin, Ima, Lala, Laila, Suparman, dan Santi diharapkan segera mengunggah file PDF ke dalam aplikasi. Harapannya adalah tidak ada lagi odner yang berlebihan untuk menyimpan arsip surat. Semoga hari kerja pasca libur Lebaran, fitur pengarsipan dapat dimanfaatkan dengan segera.

Begitu pula Sri Hartini dari Subdit Wilayah Kerja Non Konvensional, satu satunya perwakilan dari Direktorat Pembinaan Usaha Hulu Migas, mendapat tugas untuk segera melakukan scan, unggah file PDF ke database aplikasi e surat.

Sedangkan Suratija & Umar mewakili Direktorat Teknik dan Lingkungan asyik memperhatikan uji petik pengarsipan surat secara digital dg sampel unit DMB dan DMO. Begitu juga Sinta & Kabul dari Bagian Hukum.

Dukungan fasilitas pengarsipan secara digital yakni tim arsip di lantai 4 atau ekstensi 285 bersifat sementara sehingga perlu digantikan dengan peran dan tugas yg nyata dari para sekretaris dan pengadministrasi untuk melakukan pengarsipan.

Surat yang akan dikirim ke tujuan, dibawa ke lantai 4 untuk dilakukan perekaman ke bentuk PDF mendukung proses pengarsipan secara digital. Hal tersebut merupakan pendekatan sementara untuk mendorong terciptanya pengarsipan secara digital.

Saat ini dukungan tersebut kurang diminati dan justru menjadikan kesalahan persepsi dan mengaburkan tujuan sebenarnya sebagai usaha pengarsipan secara digital.

Akhir tulisan ini, memberi simpulan bahwa ketatalaksanaan seperti urusan persuratan dapat terjadi perubahan dengan pemanfaatan teknologi informasi komputer. Namun demikian sebagaimana logika komputasi, minimal terdapat tiga hal yang harus menjadi perhatian yakni hardware, software, brainware.

Monitoring brainware atau pengguna, Sub Bagian Tata Usaha Migas melakukan monev kepada sekretaris pimpinan dan pengadmintrasi umum untuk mendapatkan data keaktifan dan pemanfaatan fitur aplikasi e surat bahkan untuk mendapatkan masukan bagi pengembangan aplikasinya.

Semoga bermanfaat