Preservasi media informasi bukan saja terkait material kearsipan

Media perekam dan penyampai informasi berupa kertas dan media elektronik berbasis analog yang dikategorikan konvensional samakin banyak ditinggalkan oleh penggunanya. Tentu ini mempengaruhi para pewarta dan pekerja yang menggantungkan hidupnya di media konvensional.

Sebut saja pak Bogi, tetangga saya di perumahan VTB Depok Jawa Barat, harus mengalami penyesuaian jumlah pegawai meski dikategorikan sebagai pegawai senior. Divisi Program di TV One yang hampir 20 tahun ia tekunk, harus mengalami penyesuaian kerja dan media sehingga pak bogi pun pensiun lebih dini.

Dari fenomena di sekitar tersebut, saya pun membuat hipotesa bahwa media konvensional dipengaruhi perubahan baik dari sisi teknologi yang mempengaruhi kecepatan distribusi, maupin sisi produsen yangvterkait dengan finansial dan kemampuan ekonominua serta dinamika masyarakat sebagai penggunanya.

Nah bagaimana analisis secara kajian Akademiknya?

Marshal Mcluhan, Profesor Universitas Toronto dengan Teori ekologi Medium mengetengahkan media elektonik dan digital membentuk persepsi masyarakat. Dari sini kita belajar media elektronik dan media digital secara sosiologi komunikasi.

Pertanyaan selanjutnya kapan media online mulai muncul. Suatu penelitian karya Henry Jenskin yang dikenal dengan Convergence Culture: Where Old and New Media Collide (2006), meringkas tiga hal yakni yang pertama aliran konten informasi ke khalayak media apapun.

Yang kedua partisipasi pengguna seperti halnya blog atau konten buatan memantik produser media. Jenkins sebagai profesor di Universitas Sout of California itu menutup pilar kovergensi media pada fenomena atas potongan potongan informasi yang dapat memunculkan narasi secara kolektif.

Dari uraian kedua profesor atau ahli tersebut diatas, maka dapat dihipotesakan bahwa karakteristik distribusi dan interatitivitas pengguna berbanding erat dengan konten informasinya.

Melalui teorinya Mchluhan “medium is massage, atau teori ekologi media maka kita akan sepakat bahwa pengguna dibentuk oleh medianya. Pun ketika sebagai bentuk perpaduan media elektronik dan digital memenuhi keseharian akses masyarakat maka media online akan dialiri konten sebagaimana pilar convergensi media ala Henry Jenskin.

Yang kemudian akan menarik untuk didiskusikan selanjutnya ialah media online ini bersifat dematerialisasi atau secara material tak akan mudah dikondisikan namun memiliki kapasitas ruang simpan secara siber /online yang begitu besar dengan jangka waktu atau retensi yang lama serta aksesibilitas yang luas.

Kemudahan dalam menyimpan dan mengakses informasi sebagaimana karakteristik media online membentuk era “algoritma” dimana akan menjadi dua mata pisau sekaligus antara baik atau berguna sekaligus buruk atau merusak. Pilar konvergensi ala Henry Jenskin mengingatkan kita semua bahwa potongan informasi di dalam media akan menjadi narasi kolektif.

Pun ketika ketidaktegasan antara produsen dan konsumen informasi yang juga menjadi pembeda dengan antara media konvensional media online mengarahkan kita pada teori Prosumer yang dikenalkan oleh Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1980).

Akhirnya, dari diskusi karakteristik media konvensional dan media online ini, mengajarkan Arsiparis untuk melakukan Preservasi dan konservasi media informasi bukan saja terkait material kearsipan saja, namun bagaimana mengkurasi dengan merepost dan mereproduksi informasi berdasarkan arsip yang autentik sehingga narasi kolektif dari media online berdasarkan bukti kearsipan

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar